Sebelumnya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Indra Prameswara. Bukan seperti nama kebanyakan orang Bali yang biasanya di beri nama Wayan, Made, Ketut, Nyoman,dll.Mungkin orang tua saya berharap anaknya menjadi lebih nasionalis, Sehingga saat kuliah banyak teman-teman tidak menyangka kalau saya memiliki turunan Bali dan beragama Hindu sehingga dalam proses berinteraksi teman-teman lebih mengenal saya mungkin sebagai seorang muslim. Saya lahir dan besar dikeluarga dimana Ayah saya Merupakan orang bali dan beragama Hindu, sementara ibu saya berasal dari Jawa dan dulunya bukan Hindu. Inilah mungkin yang memberikan pengaruh pada persepsi mereka akan pilihanku yang berencana menikahi seorang wanita muslim. Perkenalan kami berawal dari sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh umat Hindu kalau tidak salah kegiatan sebelum hari raya Nyepi. Saat itu ia datang beserta beberapa temannya yang kebetulan memang beragama Hindu. Pada awal perjumpaan kami tidak ada perasan yang istimewa di hati kita berdua. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain sehingga kami berjumpa kembali untuk kesekian kalinya dalam sebuah kesempatan penggalian dana untuk sebuah kegiatan. Dalam kesempatan ini rupanya kami diberikan waktu lebih intens melakukan pembicaraan serta berkesempatan melakukan pertemuan lanjutan dalam rangka membuat skripsi. Pada saat itu saya sedang berupaya menyelesaikan kuliah saya di Universitas Jayabaya Jakarta. Sementara dia berkuliah di Unika Atma Jaya Jakarta, salah satu kampus dengan fasilitas perpustakaan yang cukup lengkap. Saat itu saya menggunakan keanggotaan dia di perpustakaan tersebut untuk memperoleh referensi buku sebagai bahan tulisan saya. Siapa sangka perasaan kami berubah seiring dengan seringnya perjumpaan kami. Saya rasa benar pepatah jawa yang mengatakan “asal suka karna biasa”. Pada kesempatan bertemu itu juga sebenarnya saya sudah memahami jikalau ia beragama Islam namun karna saya terbiasa berinteraksi dengan umat beragama lain maka saya tidak menjadikan itu sebagai kendala. (saat itu saya sudah bergabung dan aktif di generasi muda antar iman). Berbeda dengan rekan saya Ahmad Nurcholis yang berjumpa sang buah hati di dalam interaksinya di Gemari, saya bertemu dengan Kekasih saya di luar lingkup itu dan kemudian mulai saya perkenalkan ia dengan komunitas antar iman. Pada masa awal proses pendekatan memang ada perasaan khawatir akan mengalami penolakan oleh pihak keluarga wanita mengingat beberapa pengalaman yang saya alami juga mengharuskan saya untuk berbesar hati melupakan mantan-mantan saya karena larangan dari pihak keluarga.
Entah mengapa dengan Meidy saya menemukan kegairahan baru, saya seperti menemukan sesuatu yang selama ini selalu saya cari dalam hidup dan hal lain yang tak kalah penting adalah sikap kedua orang tuanya yang sangat ramah bahkan ketika mereka tahu bahwa saya adalah seorang penganut Hindu, bahkan dalam setiap pembicaraan mereka selalu menayakan aktifitas saya di Pura dan selama 5 tahun lebih kami berpacaran belum pernah saya mendengar ada kalimat yang tidak memperbolehkan atau memojokan saya. Saya berharap ini akan menjadi indikator yang baik bagi kelanjutan hubungan kami.
Hubungan selama 5 tahun lebih ini pun bukan tanpa masalah, layaknya orang yang saling melakukan penyesuaian masalah dan kendala selalu hadir dan menghalangi namun kami berdua rasanya cukup dewasa untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan dengan kepala dan hati yang dingin. Diskusi mengenai agamapun tidak terhindarkan menjadi agenda tetap dalam setiap pertemuan. Bukan mencari mana yang benar dan mana yang salah tetapi saling memperkenalkan ajaran agama masing masing. Pertanyaan mendasar pun sering dia pertanyakan seperti “bukankan menikah atau berpacaran dengan orang yang berbeda iman haram hukumnya” atau bagaimana jika menikah nanti harus membaca kalimat shadat. Saya teringat hal paling sering ia tanyakan adalah pandangan orang mengenai stigma “Zinah” jika menikah dengan orang beragama lain. Jawaban yang saya munculkan adalah bahwasannya Tuhan menciptakan manusia sama dan tuhan tidak menciptakan agama yang berbeda hanya manusia yang melakukan hal tersebut serta melakukan klaim atas kebenaran. Percayalah Tuhan menghendaki setiap insan manusia untuk saling mencintai serta melakuakan sebuah ikatan atas dasar cinta serta rasa tanggung jawab untuk saling mengasihi serta menjaga pasangannya. Beberapa saat dia terdiam, saya tak tahu apakah diamnya berarti dia sepaham dengan saya atau dia tidak mau berargumen lebih jauh dengan saya. Saya saat itu hanya berharap semoga jawaban saya mampu menjawab atau paling tidak bisa sedikit menenangkannya. Hal yang kemudian saya sering lakukan adalah mengajaknya berinteraksi dalam komunitas - komunitas interfaith untuk sekali lagi meneguhkan pilihannya untuk melakukan sesuatu yang ia yakini yaitu menikah dengan ku.
728x90
!doctype>
No comments:
Post a Comment